Keliling Sejenak di Hatyai

     Setelah perjalanan panjang dari Krabi, akhirnya kami sampai juga di Hatyai . Tiap rombongan pun turun terpisah, mulai dari bule-bule-beraroma-keju, Bang Edi-Kak Dinda-dan-sepupunya, hingga saya . Si supir menurunkan saya didepan sebuah agen travel; ia ikut turun, mengajak saya kedalam, ngasih kwitansi saya pada agen travel, lalu kembali lagi ke mobil. Si agen travel menyuruh saya menaruh tas saya di sofa dibelakang dekat kamar mandi.
Saya pun duduk diam beberapa saat, lalu menuju si agen untuk menanyakan brapa lama lagi saya akan dijemput, “You will be picked up at 7 pm”. Apa! Masa jam 7 malam sih! Sekarang kan masih jam 4! Uuhh, 3 jam lagi untuk dilalui. Ya udah sih, ambil positifnya aja. Kan bisa manfaatin waktu untuk jalan-jalan disekitar sini. Saya pun minta peta pada si agen, minta ditunjukkin posisi saya, lalu bertanya pusat perbelanjaan. Niatnya sih cuma liat-liat doank, kan duit udah ga ada. Haha
Saya pun berjalan sambil perhatikan kiri kanan. Kondisi Hatyai mirip banget kayak di Indo ; bangunannya, suasananya, orang-orangnya, saya seperti berada disalah satu kota di Jawa, bukannya diluar negeri. Saya pun memasuki salah satu mal. Disini, sambil liat-liat, saya memainkan sebuah permainan yang berjudul “Sorry, I don’t speak Thai”. Hahaha…caranya: saya sengaja perhatiin barang-barang sampai SPGnya nyamperin dan mulai ngomong Thai sama saya, dan saat itu lah saya bilang “Sorry, I don’t speak Thai”. Konyol memang, tapi seru aja ngeliat muka mereka saat tau saya bukan orang Thai.
Dilantai sekian, saya nemu buku-buku yang berjejer rapi di rak. Wah, saya langsung semangat . Saya paling cinta buku, apalagi yang tebal-tebal. Tentunya jenis buku yang jadi asupan saya adalah novel petualangan, sihir-sihir, detektif, serta horor, bukannya buku motivasi, bisnis, maupun kamus kedokteran . Uniknya, dilantai paling atas saya liat dua waria yang sedang milih-milih kosmetik. Well, kata orang-orang, kita bakalan sulit ngebedain waria sama wanita kalau lagi di Thailand . Tapi saya ga kesulitan tuh. Pokoknya tau aja mana yang asli dan yang jadi-jadian. Atau mungkin karena saya belum ketemu sama yang super duper cantik aja? Alaahhhh, yang pastinya SAYA  GA  DOYAN!
Saat hendak meloncat ke mal lainnya, saya liat ada toko jasa penukar uang. Tukar uang gak ya? Kan masih ada RM 100 sama US$ 50. Oh iya, saya kan pengen nyobain ketan duren yang beken itu. Bagaimana kalo nyari bioskop trus nonton, kan 2 jam bisa ketutup tuh. Saya pun melangkah ke arah toko itu. Saat saya perhatikan kursnya, mata saya menangkap ikon bendera merah putih, horeeeee, ternyata mereka terima duit Rupiah. Saya pun nuker duit Rp 100.000, jadinya dapet sekitar 300 Bhat.
Saat memasuki mal, saya langsung menuju lantai paling atas, karena menurut saya di mal manapun, bioskop pasti adanya di lantai paling atas . Ada beberapa film, tapi yang menurut saya paling menarik hanyalah Green Hornet . Saya pun menuju konter tiket. Jiaaahhhhhh, ternyata filmnya udah dialih bahasakan ke bahasa Thai dan ga ada terjemahan. Saya pun mengurungkan niat , masalahnya mana bisa ngerti saya jalan ceritanya kalo ga ngerti apa yang mereka omongin. Adanya kalo saya paksa nonton, entar saya ketiduran lagi dalam bioskop. No lah! Masa bayar mahal (120 Bhat) hanya untuk duduk kebingungan didepan layar. Saya pun beralasan mau tanya teman dulu di lantai bawah…hahahahhahaha…teman dari Hongkong!
Saya memutuskan untuk liat-liat aja di pasar, siapa tau ada yang menarik . Lagipula saya mesti nyari tempelan kulkas yang dipesan teman, juga gantungan kunci untuk teman lainnya. Di emperan toko banyak lapak yang jualan oleh-oleh . Di satu lapak yang saya kunjungi, saya perang harga sama si pemilik yang adalah seorang ibu-ibu keras kepala . Saya tawar dan tawar terus sampe si Ibu ngambek, ya udah, saya tinggalin aja. Hahaha . Saya pun mblusuk ke pasar yang rame ngejual baju serta DVD bajakan yang kebanyakan film b*kep h*mse.
Bosan keliling, saya pun nyari penjual ketan. Ada beberapa, tapi saya pilihnya yang penjualnya pake jilbab. Setelah tawar menawar, akhirnya saya dapat ketan duren seharga 80 Bhat (Rp 24.000? mahal sih, tapi tak apalah ). Satu hal yang menarik, mereka menggunakan kata ‘pulut’ untuk menyebut ‘ketan’. Jelas saya paham, wong di Ambon ketan juga disebut pulut . Setelah bayar, saya pun kembali ke si penjual gantungan kunci, nawar sekali lagi, tapi tetap aja ga dikasih, ya udah cerewet, saya langsung beli aja, lalu kembali ke agen travel.
Pas masuk ke tempat travel, ternyata cewek yang tadi pindah mobil di Krabi sedang duduk-duduk didalam . “Hey, we meet again” kata saya, mengambil tempat disampingnya. “Yeah, and you got here before me” balasnya sambil tertawa . “I’m Fier anyway” kata saya ngenalin diri. “I’m Stephanie” sahutnya. Kami pun ngobrol panjang. Dia cerita perjalanannya tadi, bahwa dia diturunkan di agen travel yang salah , dan kwitansinya ternyata dipegang sama supir yang ngendarain mobil yang saya tumpangi, dan bahwa dia jadinya kebingungan dan harus menunggu hingga si supir itu datang, lalu membawanya kesini. Jiaaahhhh, kalau begitu lancaran saya donk. Alhamdulillah
“Do you like durian?” Tanya saya pada Steph. “No, I don’t. I dislike the smell” sahutnya . “Well then I have to move though” kata saya hendak menyingkir karena dia ga suka bau duren. Tapi dianya malah bilang ga apa-apa, makan aja katanya . Ya udah, saya lahap makanan enak itu. “Mmm, I did enjoy every single bite” kata saya pada Steph setelah melahap habis pulut.
Bosan ngobrol disitu-situ aja, kami pun berjalan-jalan diluar . Duh, dasar bule, langkahnya panjang bener. Saya aja sampe ketinggalan. Mana dia kan lebih tinggi dari saya. Jadinya rada-rada tengsin juga jalan bareng, secara doi lebih menjulang dibanding saya . Hahahahah. Lama kami jalan, hingga akhirnya jam setengah 7 kami kembali lagi ke travel. Kami pun diberi tiket . Tak lama kemudian bus pun datang. Saya ke ruang belakang untuk ambil ransel saya. Karena pengen keliatan gentel, saya pun membawakan ranselnya Steph . Ya Ampun! Ini ransel isinya lemari pakaian kayaknya, berat amaaattt! Setelah memasukkan ransel kami ke bagasi, kami pun menaiki bus.
(Bersambung…)

24 responses to “Keliling Sejenak di Hatyai

    • permintaan yang sulit nih, soalnya kemarin udah males banget foto2..
      udah capek 8 hari keliling2…
      saya pun menghindari penggunaan foto yang bukan hasil jepretan saya..
      jadi, untuk gambaran Hatyai, silahkan tanya Mbah Google😉

    • iya, kalo kamu kesana, pasti juga diajak ngomong Thai..
      Pontianak ya? berarti kata “pulut” itu bahasa Melayu..
      Thai – Malay – Indo kan ngomong Melayu..
      memang ga jauh-jauh ya kekerabatannya..😉

    • maaf mengecewakanmu, Kang Nur..
      saya ga punya foto-foto di Hat Yai (Saya juga menyesalinya)😦
      waktu itu saya sudah malas ngambil gambar..hehe
      kalo mau lihat Hat Yai, monggo nyari di google..
      saya menghindari memajang foto yang bukan hasil jepretan saya sendiri😉

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s