Nyaris Tenggelam di Pulau Bambu (Bamboo Island)

     “Where’s your receipt?” tanya si pemandu tur saat saya hendak bergabung dengan rombongan. Saya pun memberikan kwitansi pembayaran, lalu kami berjalan beriringan menuju dermaga. Well, cukup menyedihkan saya ga membawa apa-apa selain baju kaos, celana renang, serta kamera. Padahal saya liat turis lain, yang kebanyakan bule, pada bawa-bawa cemilan renyah sambil makan bersama pasangan mereka!
Kapal pesiar kami cukup besar dan nyaman, namun ga terlalu mewah. Sebelum naik kelantai dua, kami semua diberi baju pelampung, sepatu katak, serta kacamata snork
eling yang diberi nomor, maksudnya kita harus menjaga kacamata tersebut, karena kalau hilang, kita harus menggantinya sekian ratus Bhat. Halah! Kalau hilang kan tinggal diam-diam ambil aja di kotak penyimpanan dilantai bawah. Beres! Eitss! Ini pemikiran bodoh, karena nomor kacamata kita dicatat, dan tiap nomornya berbeda, jadi pasti ketahuan!
Saat kapal akhirnya berjalan, dermaga pun makin tamp
ak menjauh. Para awak kemudian menyediakan minuman gratis yang bisa dipilih; teh atau kopi. Juga ada minuman lain yang dijual. Tujuan utama kami adalah Pantai Monyet (Monkey Beach) yang konon banyak banget monyet seliweran disitu. Ternyata pantai ini tak terlalu jauh dari dermaga, letaknya ditebing, dan hanya sepenggal. Saat kapal berlabuh, salah seorang awak kapal (selanjutnya saya sebut Si Nyaring) pun berteriak “We’ll be here for 1 hour. You can get to the beach by canoe ─ one for three persons. You will find monkeys there. You can also snorkel, only around here”. Semua orang pun bersiap; membuka pakaian mereka untuk berbikini, pake sepatu katak dan kacamata snorkeling, lalu terjun ke air. Berenang capek-capek kesana hanya untuk ketemu monyet? Ga deh. Saya kan udah puas ngeliat mereka waktu di Pura Uluwatu, Bali.
     Saya pun, setelah mengenakan peralatan berenang, langsung terjun ke air. Dua hal yang saya harus akui disini adalah: 1) ini kali pertama saya snorkeling, 2) Berenang pakai baju pelampung plus sepatu katak. Karenanya, bukan lincah berenang kayak putra duyung, saya malah kesulitan. Saya pun kembali ke kapal, melepas sepatu katak, lalu terjun lagi. Aaahh, terasa lebih baik. Saya pun mencoba meliat dasar laut, namun malah megap-megap sampai menelan air karena belum terbiasa dengan kacamata superbesar ini. Ga mau menyerah, saya coba dan coba terus, hingga akhirnya saya bisa membiasakan diri dengan bernapas lewat mulut. Wah, bagus sekali alam bawah laut. Walaupun karangnya ga bagus-bagus amat, seenggaknya ini pengalaman yang luar biasa.
Tak terasa 1 jam berlalu, kami pun kembali ke kapal. Musik yang berdentum kencang makin membuat suasana terasa luar biasa. Angin kencang serta gelombang yang agak tinggi mengiringi kapal yang berarung menuju Pulau Nyamuk (Mosquito Island). Ditengah perjalanan, kapal kami berhenti sekitar 30 menit disamping kapal nelayan. Ternyata mesin kapal itu terendam air, dan harus memapah pada kapal kami sambil menguras banjir tersebut. Karena kalau ga, kapal mer
eka akan tenggelam. Seorang dari awak kapal itu, pria berkulit hitam gondrong jerawatan,  kemudian memutuskan ikut dengan kami.
Ada satu awak kapal (selanjutnya saya sebut Si Caper) yang tingkahnya menyebalkan. Dari awal meliatnya saja, saya sudah tau saya ga bakal menyukai pria itu.
Tingkahnya itu lho, bikin saya pengen muntah. Si pencari perhatian ini sengaja memutar-mutar tongkat besi, lalu membuangnya begitu saja hingga menimbulkan bunyi nyaring besi yang beradu. Dia pun sengaja melompat-lompat antar kapal seperti laba-laba air kesetanan. Awak kapal yang baru gabung pun makin memperkeruh suasana; dia sengaja duduk diatas kotak pengeras suara, lalu mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama musik. Huh! Ketimbang keren, dia lebih mirip pajangan yang baut dilehernya sudah longgar. Si Caper pun memakai topi jerami andalannya, lalu bernyanyi-nyanyi dihaluan sambil sesekali matanya meliat kearah kami, berharap salah satu dari kami memperhatikan tingkah konyolnya itu.
“That is Mosquito Island. We’re not stopping there actually. Our next stop is Bamboo Isla
nd!” teriak si Nyaring. Pulaunya sih sama aja keliatannya seperti pulau-pulau disekitar sini, dengan limestone yang menjulang tinggi. Tak tau apa yang istimewa dengan pulau itu. Lagipula kalau benar pulau nyamuk itu adalah arti sebenarnya, saya ga mau pergi ke pulau itu hanya untuk mendapatkan bentol-bentol kemerahan disekujur tubuh.
Kapal terus bergerak hingga akhirnya kami berlabuh didepan pantai berpasir putih yang indah sekali ─ Pulau Bambu (Bamboo
Island). Seperti biasa, kami diberi 1 jam disini. Berbekal pengalaman snorkeling sebelumnya yang terasa menyenangkan, saya pun langsung terjun. Dan, ya ampun, kok saya sulit berenang? Saya pun seperti terseret menjauh dari kapal. Wah, ternyata permukannya yang teduh menyembunyikan arus bawah air yang kencang. Saya pun kembali ke kapal, duduk-duduk sebentar, lalu terjun lagi. Sumpah! Saya sama sekali ga bisa snorkeling disini. Saya pun memutuskan untuk berenang ke tepi. Namun arus yang kencang membuat saya kepayahan.  Terus saya coba menendang-nendang air, hingga akhirnya saya sampai di tepi dengan napas ngos-ngosan.
Lama saya beristirahat, saya pun memutuskan untuk kembali saja ke kapal. Sebenarnya, saya sudah ga yakin bisa berenang kembali. Saya mau numpang di canoe, tapi kayaknya udah kepenuhan. Lagipula saya ga mau menyerah. Saya pun kembali ke air, lalu mulai berenang perlahan sambil mengatur napas dan gerakan. Terus saya mengayuh tangan dan kaki, tapi kok belum sampai juga. Padahal jarak antara tepi air dan kapal hanya sekitar 35 meter, tapi saya serasa ga maju-maju. Saya mulai kelelahan, dan kaki serta tangan saya kesakitan. Baju pelampung yang saya pakai ga membantu sama sekali, bahkan makin membuat saya kesulitan berenang. Jaraknya masih 10 meter lagi, namun saya sudah ga kuat. Air yang tertelan membuat saya terbatuk-batuk hingga kesulitan bernapas. Jantung saya berdebar kencang, kepala saya pusing, rasa panik semakin menguat, bahkan nyaris saya sudah ga mampu untuk tetap mengapung, rasanya saya pengen nangis saat itu juga. Ya Allah, apa sampai disini saja?
Saat sudah kehabisan tenaga, dan hanya bisa megap-megap sambil terus berusaha menangkap udara, saya liat tak jauh disamping saya ada bule yang berenang menuju pantai. Rasanya saya ingin berteriak minta tolong, tapi, entah saya terlalu bodoh atau teramat nekad, saya diam saja. Tidak! Saya belum mau menyerah. Saya pun mengeraskan rahang, lalu mengumpulkan kembali tenaga hingga akhirnya saya bisa mendorong tubuh saya lagi ke depan (ya, saya pernah dengar ungkapan bahwa bila nyawa seseorang sedang terancam, ia akan tiba-tiba mendapatkan tenaga yang luar biasa besar). Saya pun berhasil menangkap tali pembatas labuhan kapal yang licin, namun tak menolong sama sekali. Beberapa saat saya terombang-ambing, lalu berenang kembali menuju kapal dengan tenaga yang tersisa. Hingga akhirnya saat tangan saya mencengkeram keras tangga, saya tau saya ga akan berakhir di pantai ini.
Dengan susah payah saya menaiki tangga, dan menuju lantai dua sambil terbatuk-batuk hebat. Napas saya agak sesak karena tersedak air laut. Saya pun, dengan badan yang bergetar hebat, duduk dikursi sambil terus mencoba menenangkan diri. Perlahan, air mata saya pun jatuh. Ya Allah, tolong jangan dulu ambil nyawaku, saya sendirian disini. Hanya sendirian.

(Bersambung…)

3 responses to “Nyaris Tenggelam di Pulau Bambu (Bamboo Island)

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s