Indahnya Maya Beach

     Pernah sahabat saya, Mela, bilang kalau dia trauma berat sama pantai. Soalnya dulu dia pernah hampir tenggelam pas berenang. Saya sih cuma ngetawain aja, masa iya ada orang takut sama pantai? Orang pantai kan tempat paling menyenangkan sedunia. Namun sekarang, saya menjilat ludah saya sendiri. Sejak tragedi-nyaris-tenggelam tadi, saya jadi agak trauma. Gelombang tinggi yang mengombang-ambingkan kapal membuat hati saya menciut, padahal saya sebenarnya sudah sangat terbiasa akan hal ini (mengingat saya sudah bosan naik kapal sejak kecil). Saya jadi mengerti perasaannya Mela sekarang.
    Well, satu hal yang telah jadi pengetahuan umum dalam ilmu berenang adalah bahwa kegiatan ini, terutama yang dilakukan di pantai, dapat menimbulkan penyakit kronis, yaitu KELAPARAN. Hadeeuuhhh! Perut saya keroncongan. Saat ngiler memperhatikan  turis lain yang asyik ngemil, tiba-tiba makan siang dibagiin. Duh, senangnya. Saya pun dengan cepat melahap nasi goreng kurang bumbu itu.
     Perlu diketahui, turis yang ikut tur ini gayanya bermacam-macam. Kebanyakan dari rombongan kami adalah bule; beberapa pria dari Eropa dengan rambut merah mereka, dua tante-tante dan cewek latin yang sombong, pasangan dari Aussie yang romantis, serta wajah-wajah eksotik lainnya yang saya ga bisa tebak dari mana mereka berasal. Ada juga beberapa pasangan Asia yang memaksa diri untuk terliat mesra. Namun, dari mereka semua, ga ada yang bisa lebih menjengkelkan daripada pasangan beda ras satu ini: cowok bule & cewek Thai. Hadeeeuuh, ga ada satu momen pun yang mereka biarkan untuk ga saling bercumbu, berpelukan, ciuman, dan adegan-adegan erotis lainnya. Seakan-akan dunia ini lagi dikontrak hanya untuk mereka berdua. Si ceweknya sih ga begitu agresif, namun cowoknya itu lho, napsunya minta ampun. Saya rasa ia minum obat perangsang sampe over dosis, makanya napsunya itu kayak orang kesetanan.
Gelombang yang menghantam kapal makin menggila saja, membuat jantung saya jingkrak-j
angkrik heboh. Kami sedang menuju Pulau Phi Phi Leh dimana pantai Maya yang kesohor itu berada. Selat antara Phi Phi Don dan Phi Phi Leh cukup luas hingga gelombangnya terasa hebat. Baru saat kami sudah mencapai Phi Phi Leh, gelombang pun nihil karena terhalang pulau. Dinding limestone yang menjulang tinggi terliat sangat mengesankan; gradasi warna abu-beige-cokelat-serta hijau dedaunan membuatnya tampak eksotik. Gua-gua besar-kecil pun menghiasi dinding tebing. Sekilas, pulau ini nampak terapung diatas permukaan air karena bagian dasar pulau yang berbatasan dengan air jauh menjorok kedalam.
“This is Viking Cave” teriak si Nyaring, dan kami pun menoleh kearah goa besar yang terdapat sisa-sisa peradaban par
a bajak laut yang dulunya pernah berdiam di goa tersebut. Ga tau bagaimana sejarahnya, namun yang pasti para pengarung laut itu pastinya cukup berani untuk tinggal di tempat mengerikan itu. Ada perahu kecil yang tertambat didekat goa, dan mata saya pun menangkap gerakan kecil dikejauhan, yang ternyata adalah seorang bapak-bapak yang sedang nyuci…tong?
Kapal pun kembali melaju, dan kemudian berlabuh dihadapan teluk yang saya lupa namanya. Kapal ga bisa masuk karena air sedang surut. Si Nyaring pun berteriak lagi bahwa kami hanya punya 1 jam untuk bercanoe, snorkeling, atau berenang. Semua orang bergegas mendayung canoe mereka menuju teluk bagian dalam, ber
snorkeling ria, serta foto-foto ─ hanya saya sendiri yang diam ditempat. Jantung saya berdegup kencang, menimbang-nimbang “Duh, snorkeling ga ya? Gimana kalo saya nyaris tenggelam lagi?”. Di satu pihak, saya ogah, di lain pihak, saya mupeng. Dan akhirnya, si mupeng lah yang menang. Halaah! Persetan dengan trauma-nyaris-tenggelam! Saya ga mau kalah seperti si Mela yang trauma bertahun-tahun!  Saya bersungut-sungut dalam hati. Saya pun memasang kacamata dan, teteup, baju pelampung, lalu terjun dengan gagah berani ke dalam air. Dan, voila! Saya bisa! Hahaha…ternyata tadi hanya pengaruh arus saja sampai saya ga bisa berenang. Saya pun bersnorkeling ria sambil tertawa kesenangan dalam air.
     Si Caper ini cari gara-gara lagi dengan saya. Saat saya berdiri di batu karang, ia teriak marah-marah ke saya “do not stand there!”. Ya, memang saya salah berdiri diatas batu karang, yang salah-salah kaki saya bisa merusak habitat dibawah sana. Namun, yang bikin saya emosi, seorang turis bule lain yang berdiri-diri juga diatas batu karang malah ga dimarahi! Huh! Ya sudah lah, mudah-mudahan ia tersedak rambut gondrong jeleknya itu.
Ikan-ikan disini cukup jinak. Saat saya rentangkan tangan saya kedepan didalam air, mereka pun berdatangan dan menggigit-gigit tangan saya. Lama-lama, kok ikannya makin banyak? Eh, ternyata si Caper dan tem
an-temannya menyebar makanan ikan diantara para turis sehingga membuat ikan-ikan itu berseliweran ditubuh mereka. Nah! Sekarang justru siapa coba yang akan merusak habitat disini?! Si Caper itu lebih salah dari saya karena dengan memberikan makanan, ikan-ikan itu lambat laun akan kehilangan insting mereka untuk cari makan sendiri dan selalu berharap setiap turis yang lewat akan melempar sisa-sisa dim sum mereka ke laut! *emosi*
     Saat kapal hendak berangkat lagi, si Caper pun terjun ke laut dari lantai dua. Biasa lah, pamer! Hal ini pun mengundang turis lain untuk ikutan. Mereka pun rame-rame lompat sambil teriak-teriak. Ada yang gaya melompat bebas, lompat bom, loncat indah, bahkan salto. Huh, saya berharap sekali saat si Caper itu lompat, kapal langsung bergerak dengan kecepatan tinggi, dan meninggalkannya di belakang.
Kapal kami pun melaju menuju ujung pulau, sehingga gelombang besar kembali m
enerpa. Tak berapa lama kemudian, kapal memasuki sebuah ceruk berdinding karang yang berdiri gagah. Tepat ditengah dinding karang itu terdapat celah dengan bentuk segitiga yang mengerucut kearah bawah, dan di titik itu lah terdapat tangga yang pegangannya diikat dengan tali tambang yang membentuk seperti jaring laba-laba. Saat akhirnya kapal berlabuh, si Nyaring kembali mengumumkan “We’ll be here for 1 hour. This is the other side of Maya Beach. So you have to swim there and we will take you to Maya Beach”teriaknya sambil menunjuk tangga jaring laba-laba itu. What! Kami harus berenang kesana?!  Nyali saya langsung ciut meliat ombak serta riak air yang pecah menyebarkan buih. Rasa nyaris-tenggelam tadi melayang-layang dikepalaku.
    “You’re not going?” tanya seorang bule, mungkin ia bingung ngeliat saya yang berdiam diri saja sementara yang lain bersiap-siap berenang. Sejenak saya berpikir, ga usah aja kali ya kesana, duduk disini memang lebih aman, tapi kan malas banget kalau pulang ke Indo nanti ada yang bilang ‘hah! Udah jauh-jauh ke Pulau Phi Phi tapi ga ke Pantai Maya?’, mmm, kalau berenangnya hati-hati, pasti bisa lah. “I’m going” jawab saya mantap. Saya pun tanpa malu-malu pake baju pelampung (yang pake hanya saya, sepasang kekasih Cina, serta seorang pria bule tua..huhu), lalu terjun. Saya benar-benar mengatur napas dan gaya, hingga akhirnya saya dapat mencapai pantai. Yihaaaa!
    Kami pun menaiki tangga kayu yang agak reyot karena sering dihantap ombak, dan kemudian muncul dibalik celah itu yang ternyata adalah hutan berlantaikan pasir yang difungsikan sebagai tempat berkemah. Saat melewati tempat itu, saya liat ada beberapa pondokan serta toilet. Kami terus melangkah melewati jalan setapak hingga akhirnya berakhir di pantai terkenal itu; Pantai Maya. WOW! Saya mendapati diri berdiri tepat ditengah sebuah ceruk luas berdinding limestone dengan hamparan pasir putih yang indah. Oh My God! I can’t believe this! I’m finally here! Saya tak berhenti tersenyum menikmati sensasi ini. Saya pun minta tolong seorang bule untuk memotret saya.
     Setelah berkenalan, ternyata bule yang bernama Raise itu orang Aussie yang udah belajar Bahasa Indo bertahun-tahun tapi blom lancar-lancar. Lucunya, dia bertanya sama saya “Siapa namanya?” dalam logat bulenya. Saya pun tersenyum, lalu meralat pertanyaannya “You should say ‘siapa namamu?’ which means ‘what’s your name?’. What you said earlier means ‘what’s his/her name?’ “ jelas saya. Ia sedikit kebingungan karena mungkin selama ini ‘siapa namanya?’ baginya adalah ungkapan yang tepat untuk menanyakan nama orang yang ia ajak bicara, bertolakbelakang dengan pacarnya yang mengerti penjelasan saya, “Yeah, he’s right. I remember that one” katanya pada Raise.
Saat 1 jam yang terasa bagai 10 menit berlalu, kami pun digiring kembali menuju kapal. Kali ini, saya udah ga mau berenang. Saat si Caper lagi mendayung canoe, saya pun minta dijemput. Hehe. Setelah semua penumpang kembali ke kapal, kami pun berarung kembali melewati jalur yang tadi kami lalui. Har
i sudah sangat sore, namun masih ada satu pemberhentian lagi. Hanya snorekeling saja dekat dinding tebing, tapi saya udah terlalu capek untuk berenang. Banyak juga kok yang memilih dikapal saja sambil menyeruput teh.
Saat akhirnya kapal berjalan lagi, kami kemudian berhenti tepat ditengah selat untuk menikmati keindahan matahari terbenam yang bercahaya. Wow…Gelombang tinggi tak lagi jadi soal demi meliat hadiah senja ini. Sungguh indah. Eh, lag
i enak-enak nikmatin matahari terbenam, si Caper muncul lagi sambil membawa kotak kaleng besar seperti kaleng kerupuk di warung yang bertuliskan ‘tip’. Uhh! saya benci kata itu! Sambil mengikuti irama lagu, ia pun berjalan keliling sambil berjingkrak-jingkrak minta tip. Jiaaaahhhh! Ini mah bukan minta tip, tapi malak! Saya pun dengan ikhlas memasukkan 20 Bhat. Tak apa lah, pelayanan tur mereka memang memuaskan.

(Bersambung…)

20 responses to “Indahnya Maya Beach

  1. ngomong-2 soal melancong, saya hari ini mo ke medan neh, lebaran pulang ke kampung istri sekalian jalan2 disana, pasti mantabz neh,, klo mo ngikut, nyusul aja gan.. jiaah ga di ongkosin.. haha…

    • tergantung agan mau main ke Papua bagian mana.
      Kalau main ke Jayapura sih lumayan mahal juga bro, asal agan ada kenalan aja di sini.
      Kalo ke Raja Ampat sih mahal skali
      saya sndiri blom mau kesana, blom kuat dana
      hehe

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s