Kota Tua – George Town

     “So, how was your trip?” tanya Paul yang lagi-lagi sedang asyik main netbooknya. “It was nice. I do like Peranakan Mansion. It was so luxurious and unique” balas saya. “Yeah. I went there once” sahut Paul tanpa mengalihkan pandangannya dari netbook. Saat melempar coca-cola yang tadi saya beli ke atas kasur, botolnya tergelincir jatuh: hal inilah yang menjadi malapetaka! beberapa saat kemudian kala saya membuka tutup botol, isinya langsung muncrat. (Kalo pengen tau gambaran sebenarnya, silahkan goncangkan botol coca-cola kalian lalu buka saat duduk diatas kasur ). Baju saya serta sebagian sprey basah. Si Paul cuma ngetawain aja. Hahaha. Untungnya, saat itu saya duduknya di kasur atas, bukan kasur saya. Dan orang yang tidur di kasur itu sudah check out tadi pagi. Fiuhhhhh..
     Saya  pun langsung menuju kamar mandi untuk membasuh kulit yang lengket, lalu kembali ke kamar lagi untuk ganti baju. Saya jadi dilema, satu sisi pengen ngaku aja sama petugas hotel, tapi disisi lain saya mengurungkan niat karena malas kena denda (itu pun kalo memang didenda). Karena si Paulnya cuek, dan juga karena kamar ini pakai penyejuk udara, jadi saya pikir sprey yang jadi korban itu bakalan cepat kering lah. Bagaimana kalau ada yang check in dan tidur dikamar ini? Ya, kan saya tinggal pindah tempat tidur aja ke kasur itu, walaupun lengket, yang penting ga kena denda.
     Karena pusing dan lelah yang masih menerjang, ditunjang pula oleh alunan instrumen dari netbooknya Paul, saya pun ketiduran. Saat bangun, hari sudah menjelang sore. Bingung mau ngapain, Saya ngambil peta dan meliat titik-titik mana yang belum saya kunjungi. Saat meliat gambar di bagian paling bawah, ada semacam rumah panggung yang berdiri dipesisir . “Paul, have you been here?” tanya saya sambil menunjuk gambar deretan rumah panggung itu. “Mmm, let me see” katanya, dia mengambil peta dari tanganku, “Yeah, I think I have. It’s like…” saya tak lagi memperhatikan omongannya karena hidung saya menangkap bau yang familiar sekali. Dan, Yup! Ada 2 fakta yang saya dapat. Satu, bau ini berasal dari aroma tubuh Paul. Dua, dia pasti doyan nongkrong di Pizza Hoot, soalnya aroma tubuhnya mirip Pizza. Haha, duuhhh, jadi lapar saya. “Mmm, I think it’s better to have sight seeing there” kata saya. “Sure!” sahut Paul.
     Saya pun segera menempuh perlajanan menuju tempat rumah panggung itu. Dari penjelasannya, disitu tinggal (kalo ga salah) 13 klan, saya ga ngerti klan itu apa, apakah ‘klan’ air? bintang ‘klan’ tv? cangkang ‘klan’ laut? ataukah “baju kamu ‘klan’ sekali!”, Mmm..mungkin marga kali ya . Di tengah perjalanan, saya liat sebuah perayaan etnis Cina kecil-kecilan. Mereka sedang membakar sesuatu yang menguarkan bau menyebalkan. Saya pun cepat-cepat kabur dari situ.
     Saat akhirnya saya berdiri ditepi jalan besar, saya liat gerbang kecil disisi seberang jalan. Saya cocokin dengan peta, memang itulah tempat rumah panggung itu berada. Tapi kok ya ga keliatan seperti tempat kunjungan. Bagaimana kalo saya disuruh bayar sekian ringgit ? Duit saya kan sudah tipis sekali. Lagipula, kalau rumah panggung kan sudah luar biasa sangat sering sekali saya liat waktu tinggal di Jayapura. Jadi yang ini dilewatkan saja lah . Saya pun kembali melangkah menyusuri jalan menuju kearah utara.
     Saya melewati sebuah bangunan besar yang merupakan bekas stasiun kereta api (atau ‘keretapi’ dalam bahasa Melayu) yang konon merupakan satu-satunya stasiun kereta api didunia yang ga ada rel keretanya. Lah trus? Ya ga tau, orang di peta tulisannya begitu. Saya juga melewati pelabuhan feri yang melayani rute P. Pinang – Penang daratan, serta P. Pinang – Langkawi. Lanjut jalan terus, saya melewati landmark pulau ini, dan akhirnya saya tiba di tepi pantai yang bertalut.
     Disini ada benteng tua yang meriam-meriamnya diatur menghadap ke laut. Saya liat ada beberapa pengunjung yang foto-foto didalam. Tapi karena malas bayar HTM (walaupun saya ga tau memang ada HTM atau ga), saya cukup menikmatinya dari luar saja. Capek jalan, saya pun istirahat di bangku taman disamping lapangan serbaguna yang luas. Wah, saya benar-benar menikmati saat ini. Duduk relaks, dibelai dengan sapuan angin lembut dari pantai, meliat burung-burung berterbangan, juga asyik perhatiin anak-anak sekolah yang sedang latihan baris-berbaris. SMANGAT!
     Disisi lain lapangan, saya liat ada dua gedung antik khas zaman kolonial. Saat mendekati kedua bangunan itu, bangungan yang lebih besar dan berwarna putih adalah ‘Majlis Perbandaraan Pulau Pinang Dewan Bandaraya’, sedangkan yang berwarna beige adalah Town Hall. Kalau kesan klasiknya sih, menurut saya Bogor ga kalah saing . Bangunan Balai Kota Bogor juga gedung tua yang elegan, hanya saja beda arsitektur dengan Town Hall-nya Penang.
(Bersambung)

Saat menulis bagian ini, saya jadi kangen sama Paul. Pria tua menyenangkan yang hobi cerita dan tertawa. Saya sempat malu sama dia saat berada di penginapan, dimana dia menghormati budaya Asia yang selalu melepas alas kaki saat memasuki rumah, dan dia melakukannya bahkan saat memasuki penginapan. Saya aja yang orang Asia, dan juga penginap Asia yang lain, ga melepas alas kaki. Padahal budaya sendiri ya . Saya kagum sama pria yang suka bilang ‘anyhow’ ini, soalnya dia udah 8 tahun ga balik ke negaranya hanya untuk bertualang. Dia bisa berbahasa Indo karena sering mengelilingi Indo (Saya sempat kaget lho saat dia bilang masyarakat di Wakatobi sebagian besar tidak bisa berbahasa Indo ). Saya suka saat dia menyebut nama saya, saat dia berkata “makan malam, mie goreng” dengan ‘r’ khas lidah mereka, juga saat dia bilang “What’s the word for ‘jalan-jalan’? ‘street-street’?” katanya, “No, ‘walking-walking’ “ balas saya, yang disambut tawa kami berdua. Ya, dimana pun kamu berada, saya harap kamu selalu menikmati perjalananmu. Dan semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti, amin).
Terjemahan Dialog:
  1. “So, how was your trip?”= “Gimana tadi jalan-jalannya?”
  2. “It was nice. I do like Peranakan Mansion. It was so luxurious and unique” = “Menarik donk. Saya suka banget sama Peranakan Mansion (rumah mewah). Gedungnya itu lho, mewah sekaligus unik”
  3. “Yeah. I went there once” = “Yoha. Saya juga udah kesana”
  4. “Paul, have you been here?” = “Paul, kamu udah pernah kesini blom?
  5. “Mmm, let me see” … “Yeah, I think I have. It’s like…” = “Coba sini saya liat”…”iya, kayaknya udah deh. Tempat ini tuh kayak…”
  6. “Mmm, I think it’s better to have sight seeing there” = “Kayaknya menarik. Saya kesana deh”

6 responses to “Kota Tua – George Town

  1. Kenapa pas baca tulisannya, saya mengira penulisnya cewek ya ?
    Kenapa ? Kenapa ??
    Eh, setelah scroll terus ke bawah ternyata propicnya cowok -_-”
    Ha. Ha.
    Nice post anyway…
    Saya juga lagi mengumpulkan kenekadan (dan duit, karena tiket pesawat gak bisa dibayar pake nekad doang :D) buat jalan ke Penang akhir tahun ini.
    Semangaaaaatttt…..

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s