You Must Be From Indonesia!

     Karena Chen belum juga balas pesan saya di FB, saya pun buru-buru nyari artikel di inet mengenai penginapan murah di Penang. Saya baca di jurnal blog sesama pelancong, dia bilang ada penginapan murah bernama Hutton Lodge yang terletak di Lebuh Hutton, George Town. Jadinya, setelah bus menurunkan seluruh penumpang di terminal, saya pun langsung bertanya bagaimana cara mencapai George Town. Petugas terminal bilang tungguin aja bus dalam kota di halte yang paling ujung, naik yang nomor segini atau segitu. Ya udah, saya ikuti sarannya.
Setelah bus datang, saya langsung naik dan memberitahu supirnya kalau saya hendak
turun di George Town. Si supirnya ngomong ga jelas, yang saya tangkap hanya “nanti saya panggil”. Dan dia sama sekali ga menyuruh saya bayar. Karena ga mau nyasar, saya kembali bertanya “Is this bus going to George Town?”. Dia kembali berkata, namun karena saya ga ngerti, saya geleng-geleng aja. “RM 1” katanya lagi sambil menunjuk tiket. Shit! Bodohnya saya. Coba tadi kalau saya nurut aja kata dia diawal, saya kan ga bakalan bayar. Hehehehe..(saya pernah denger kalau di Penang ada tumpangan bus gratis, tapi bus yang mana kan saya ga tau)
     Bus bergerak, saya pun duduk disamping seorang pria yang tampangnya rada-rada eksotis gimana gitu, dibilang etnis Cina: bukan, etnis Melayu: juga bukan, apalagi etnis India. Setelah berkenalan, akhirnya saya tau dia itu dari Sabah. Mmm, pantesan (apa coba?). Dia sudah 1 tahun kerja di Penang, di bagian perhotelan daerah Batu Feringgi. “Seorang saja?” tanyanya. “Emm, maaf?” tanya saya balik. “Kamu SEORANG saja?”. “Oo, iya, saya SENDIRIAN” jawab saya. Kami terus ngobrol, hingga tiba-tiba saya seperti ditampar saat dia bilang “Apa di INDON banyak bahasa daerah juga?”. “Sorry?” tanya saya kaget. “Apa Di INDO banyak bahasa daerah juga?”. Oops, mungkin saya yang salah dengar, maklum dengung mesin agak keras. *AWAS aja lu katain gue INDON!
Lama juga akhirnya saya sampai di Komtar, George Town. Dari sini, saya berjalan menuju Lebuh Hutton, ga terlalu jauh sih sebenernya. Tinggal ikuti jalan utama, Jalan Penang, ketemu deh. Pasang mata nyari-nyari
Hutton Lodge, akhirnya saya berakhir didepan sebuah bangunan bergaya kolonial yang dibalut warna beige dan krem yang menambah kesan klasik. Waduh, nih bangunan lumayan mewah, halamannya bersih, masa sih nginap disini murah. Saya pun memasuki gedung, lalu menuju resepsionis. Karena tampangnya Melayu, saya ngomong Bahasa Indo aja. Dan, seperti biasa, dia ga ngerti. Hadeuh! “Do you have any room?”. “Yes, we have single room for RM 60” tawarnya. “Any dormitory?” sahut saya. “Well, for dormitory, we still have some beds. RM 30 per night” jelasnya. “I’ll take it”.
Saat memasuki kamar, 5 dari 6 tempat tidur sud
ah ditempati. Dan untungnya tempat tidur kosong itu adanya dibawah, bukan diatas. Saya pun menaruh ransel, lalu keluar untuk cari makan. Ternyata ada resto makanan Melayu dekat penginapan ini, langsung aja saya masuk. Saya pesan nasi lemak. Eh, ternyata dikhususkan untuk menu sarapan. Jadinya saya pesan nasi goreng ayam serta teh tarik. 10 menit kemudian pesanan saya datang dan, oke, yang muncul adalah nasi goreng dengan potongan besar ayam dan semangkok…kuah berbumbu? Serius lo? Baru kali ini saya nemu nasi goreng yang dimakan pake kuah berbumbu. Hahahaha, udah kayak makan mie ayam Pak Mien aja.
Kembali ke kamar, saya bertemu dengan seorang bule 50 tahunan bertampang menyenangkan yang sedang main netbook. “Hi” sapanya, “Hi” balas saya, dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan dengan kata kunci ‘how long…’, ‘when…’, dan lain-lain, serta ketawa-ketiwi. “ I’m Fier by the way” kata saya. “Fier” ulangnya, (wow, saya suka cara dia menyebutkan nama saya). “ I’m %$#@”, katanya. Karena aksen britanianya yang sulit saya mengerti, saya sahutin “Can you spell it?”. “p-a-u-l, Paul (ucap: /pol/)” jelasnya. “Ooo, Paul (ucap: /paul/), hahaha. I got it!” sahut saya. “Aaa, I know, you must be from Indonesia!” tebaknya. Hah! Tau dari mana dia saya dari Indo. “I am. How do you know?” tanya saya heran. “Because every Indonesian pronounces /paul/ not /pol/” katanya, yang dilanjutkan dengan tawa yang nyaris mirip tawa Mbah Sirup.
(Bersambung…)

8 responses to “You Must Be From Indonesia!

    • Konon, itu sebutan mereka terhadap kita..tapi konotasinya negatif
      (mungkin dulu itu hanya sebutan saja, namun karena konflik negara kita sama mereka, konotasi itu jadi terbentuk)
      sama seperti orang kulit putih menyebut N*gro pada orang kulit hitam..
      seperti itu lah..

  1. *tengokkirikanan*
    Sepertinya saya nyasar, numpang ninggalin jejak aja deh😀

    Baru tau kalo sebutan indon itu negatif, pantesan kalo denger orang Malaysia ngomong indon kok kayaknya terhina banget. Mungkin dari nada suaranya yang agak-agak merendahkan gitu ya..

    Anyway, sering-sering travelling ya, seneng deh baca postingannya di mari😀

  2. tidak semua yang menyebut perkatan ‘indon’ itu menghina kerana kebanyakan rakyat malaysia mengambil singkatan Indon itu dari perkataan Indonesia. seperti ‘bangla’ kepada orang bangladesh. malah ramai orang indonesia yg telah lama berkerja di Malaysia pun membahasa diri mereka ‘indon’ bila saya ingatkan mereka melayu.

  3. nice story…saya sedang mencari jejak jejak orang yang sudah pergi ke penang karena berniat untuk pergi ke sana setelah lebaran ini

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s