Mewek Ditengah Perjalanan

     Di malam hari yang biasa-biasa saja di Penang, saya kembali mengotak-atik informasi perjalanan ke Thailand. Dari berbagai blog sesama pelancong, banyak disebutkan kalau mau ke pulau Phi Phi (yang menjadi tujuan saya) harus naik bus dari Butterworth ke Hat Yai, trus sambung ke Krabi, baru nyebrang pake feri ke Phi Phi. Jiaahhh, ribet bener. Mana informasinya ga begitu lengkap lagi. Disebutkan kalau kesana-kesini-kesono bagusnya pake bus lah, tuk-tuk lah, jetty lah, apalagi minivan, mana tau saya kendaraan satu itu, liat aja blom pernah. Ribeeettttt…
     Karena urusan transportasi yang terlalu kompleks, saya pun jadi benar-benar mengurungkan niat ke Thailand. Hadeuh, tapi kan tinggal selangkah lagi kesana, masa mau berhenti disini. Mana saya masih punya 5 hari lagi untuk dihabiskan . Jadinya, saya pun bertanya pada resepsionis bagaimana saya bisa pergi ke pulau Phi Phi dengan mudah. “We provide transportation to get there. You may see the schedule there” katanya sambil menunjuk kearah secarik kertas yang ditempel didinding.
     Mmm, terdapat urutan nama daerah di Thailand beserta harga perjalanannya. Pandangan saya pun nyangkut ditulisan pulau Phi Phi. “RM 112? Dare enough” pikir saya . “So, I just have to pay and I’ll be picked up?” tambah saya. “You will. At 5 am. It will take you to Phi Phi Island immediately” jelasnya. Otak saya pun berputar menghitung persediaan uang serta kecukupan hari yang tersisa. Saya masih punya sekitar RM 280, US$ 150, serta Rp 245.000. Perihal uang, saya rasa masih cukup lah. Namun masalahnya sekarang adalah ‘apakah bakalan cukup harinya?’. Perjalanan Malaysia – Thailand kan makan waktu lama, bagaimana kalau saya hanya punya satu hari liburan disana? Apa bakalan cukup? Bagaimana dengan transportasi kembali ke KL? Bagaimana kalau saya ketinggalan pesawat? Kyaaaaaggg!!! “I’ll make up my mind about that. I’ll tell you soon” kata saya. “Okay, please tell me before 10” balasnya.
     Saya pun berjalan keluar, makan malam di resto Melayu, lalu berjalan lagi seperti anak hilang ke arah mal. Diluar gedung, berderet beberapa agen perjalanan yang melayani berbagai rute, mulai dari Thailand hingga ke Singapura. Saya pun memasuki salah satunya. Si agen menawari saya perjalanan ke pulau Phi Phi dengan harga RM 94. WOW! Lebih murah RM 8 dari yang ditawarkan penginapan. Saya mencoba menawar harganya, eh si agen kekeh ga mau, katanya “It’s the cheapest price. You won’t find any other like this around”. Tergiur juga dengan harganya yang murah, tapi…tunggu lah, saya pikir-pikir dulu. Saya pun keluar dari ruangan lalu memasuki mal.
     Saya ditemani rasa galau saat berjalan mengelilingi lantai per lantai mal. Ga tau mengapa, saya ga begitu betah berada di Penang. Rasanya seperti saya ingin cepat-cepat pergi dari pulau ini. Melancong ke pulau ini hanyalah perjalanan dadakan, perjalanan yang ga saya jadwalkan sebelumnya. Mungkin lebih mirip pelarian, dimana saya begitu kecewanya dengan KL, dan tiba-tiba saya berakhir disini, di tempat yang saya sama sekali ga tau apapun mengenainya. Semuanya seperti “What am I doing here?”
     Berbagai keinginan membuat napas saya sedikit memburu. “Bagaimana kalau besok saya cabut ke Langkawi? Mungkin saya bakal suka tempat itu…tapi, apakah akan cukup waktunya untuk lanjut ke pulau Phi-phi? Atau saya ke Hatyai saja? Atau Krabi? Yang penting kan sudah ke Thailand…tapi, ada apa disana?
     Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepala sakit. Saya sudah kembali ke deretan agen perjalanan yang hendak tutup, duduk di tangga sambil menimbang-nimbang. “Kamu ngapain ke Penang?! Mau ngapain disini?! Ga ada apa-apa disini?!” kata-kata itu terus mengiang-ngiang dikepala. Hingga akhirnya pun saya kembali pada senjata terakhir saya “berdamai lah dengan dirimu sendiri” kata saya dalam hati. Ya, tak apa lah, saya mungkin sebaiknya menginap satu hari lagi di Penang, bersabarlah untuk itu. Saya pun berjalan memasuki agen perjalanan yang tadi, “I’ll take the trip on Wednesday” kata saya pada si agen yang langsung menggoreskan pena diatas kwitansi pembayaran. “The van will pick you up at 5 am”.
     Walau tiket ke Phi Phi sudah ditangan, rasa galau itu masih ada. Saya pun berjalan ke penginapan diantara deretan bangunan serta jalanan yang sudah sepi melepi. “Kamu ngapain kesini?! Mau ngapain disini?! Ga ada apa-apa disini?!” kata-kata itu kembali berkecamuk. Kepala saya tertunduk selama melangkah. “saya juga ga tau kenapa saya bisa ada disini!” teriak saya dalam hati membalas kata-kata yang menghujam itu.
     Napas saya makin memburu dan…CUKUP, saya tak ingin membohongi diri sendiri lagi, saya kesepian! Ya, SAYA KESEPIAN! Saya berteriak sekencang-kencangnya dalam hati. Gambaran sahabat-sahabat saya di Indo berputar-putar, menampilkan saat kumpul bersama, nongkrong sampe malam…Uh! Kenapa liburan ini lama sekali?! Saya ingin cepat-cepat kembali ke Indo!
     Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Saya mengeraskan rahang, mencoba menahan emosi, dan mengatur napas saya yang kian memburu. Ini memang buruk dan diluar dugaan, saya masih di pertengahan liburan dan emosi saya sudah mencapai klimaksnya. Namun, saat saya sudah mengakuinya, semua terasa lebih ringan. Saya sama sekali ga menyesal melancong sendirian, tapi harus saya akui saya merasa kesepian sekarang.
     Saya pun mencoba menenangkan diri, berkata kalau besok, semua akan baik-baik saja. “Melancong disini akan menyenangkan kalau kamu mencoba untuk menikmatinya. Tak apa lah menginap sehari lagi, kamu kan sedang liburan, ingat?. Lagipula ada Paul yang menyenangkan serta resepsionis yang ga mengerti Bahasa Indo itu”. Saya pun jadi tersenyum sendiri. Aahhhh, akhirnya saya bisa mengontrol emosi saya lagi.

(Bersambung…)

34 responses to “Mewek Ditengah Perjalanan

  1. Asik blognya Sob,
    jadi pengen melancong juga🙂
    kalau boleh tau sekarang ada dimana nih?, di Thailand apa di Indo?.
    Oiya,,,Link Sobat sudah terpasang, thanks yaa,,,

  2. Qt juga kangen sm lo… hikz.. hikz..
    10 hari menghilang ditelan bumi, pas muncul sulit dikenali…
    (Abis berjemur bang? ) hehehe

  3. Pdhl nembe sakedapnya tebih ti kulawargi sareng rerencangan, teras teu patos tebih deuinya, cobi bayangkeun… Tik.. Tak..tik… Udah bayanginnya?😀
    Teteh mah bertaun2 tebih tah, teu tiasa ujug2 hoyong uwih ka Bandung. Nangis nya nangis nyalira we… *karunya yaaa…🙂

    Besok sambung lg bacanya, lg nonton pelem amrik anu didabing ku bhs Jerman😦

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s