Teman Perjalanan yang Singkat

     Well, karena saya pergi melancong sendiri, apalagi ditambah kekurangtahuannya saya tentang proses imigrasi yang nyatanya baru sekali saya lalui saat di Indo , saya jadi deg-degan saat bus yang saya tumpangi membawa saya ke kantor imigrasi Singapura . Waduh,.mata saya pun melarak-lirik orang-orang yang berdiri dibelakang saya, mencari yang bisa diajak bicara. Dan, pandangan saya pun tertumpu pada seorang cewek  yang, menurut saya, dapat dipercaya.
“Excuse me, this is the first time I have gone abroad. I know nothing about immigration process. Can you help me there”. Kata saya padanya. “Oo, I see. Okay” balasnya. Gaya bicaranya sedikit kaku, ga tau kenapa, mungkin karena terkesima dengan ketampananku *jiaahhhh, dilemparin sandal!*
“I’m Fier btw, from Indonesia” kataku lagi, mencoba lebih akrab . “Just call me Bee. I’m from Malaysia”, sahutnya. “Ooo, I thought you were from Singapore” kata saya dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat . “Hahaha, I work in Singapore actually”. Sama seperti teman saya Chen, si Bee ini juga bisa ngomong Inggris (simpel aja sih), Mandarin, Hokkien, Kantonis, bahkan Melayu (juga simpel). Beuh, lengkaplah sudah kau katakan padaku.
Kami pun asik ngobrol  hingga ga terasa bus sudah mencapai kantor imigrasi. Saat memasuki gedung besar tersebut, saya langsung ikut ngantri. Karena si Bee ini dari Malaysia, jadi dia punya jalur sendiri, ga perlu ngantri seperti saya . Dia pun menunggu saya di pintu keluar. Ga seperti bus lain yang langsung jalan saat menurunkan penumpang di kantor imigrasi, bus kami menunggu diluar. Naiklah kami sama-sama.
Tak lama kemudian, bus sudah sampai lagi di kantor Imigrasi Malaysia. Disini antriannya buanyak dan panjang gila!  Saya pun mengambil kartu imigrasi, mengisinya, lalu ikut mengantri. Bee bilang dia akan menunggui saya di pintu keluar, tapi kok saya ga liat dia ya. Huh, ya sudah lah, yang penting saya sudah masuk Malaysia. Tapi ternyata oh ternyata, saat paspor saya sudah dicap dan memindai ransel , Bee memang sedang menunggu saya. Duuuhh, jadi ga enak tadi sudah berpikiran buruk. “I went to the tourist information to take these. I think you will be needing these since you told me you are going to Kuala Lumpur”, katanya sambil menyodorkan buku panduan wisata yang diambilnya dari informasi turis. Uh! Makin merasa bersalah saya. “Thank you” kata saya sambil tersenyum.
Kami pun berjalan menuju pintu keluar ke arah tempat pemberhentian bus. Yang bikin saya salut sama Bee, waktu saya bilang ingin ke kamar mandi sebentar, dia mau nungguin saya di hall . Wah, nih cewek emang baik hati. Setelah sampai di tempat pemberhentian bus, karena kami beda jalur dan beda bus, dia malah nungguin bus saya dulu datang, baru dia naik busnya.
“You’ll get on this bus” katanya saat melihat sebuah bus datang. “I’m going to ask the driver how much you shoud pay” tambahnya lagi. “RM 1,70? I don’t have smaller account. I just got RM 50 and RM 10” Tanya saya bingung setelah Bee beri tau saya berapa ongkosnya. “I have” katanya sambil mengeluarkan beberapa lembar RM 1 serta uang koin. Saya pun menukarnya dengan 10 Ringgit. Si supir bus ini ternyata ga sabaran, Bee yang masih kesusahan ngeluarin uang koin yang nyempil membuat saya makin panik.
Kami pun saling mengucap perpisahan, dan tentunya, saya berkata sangat-sangat berterima kasih pada Bee yang mau membantu saya, padahal baru kenal kurang dari 1 jam . Kemudian saya naik ke bus, memasukkan duit ke mesin, mengambil tempat duduk paling nyaman, lalu menikmati pemandangan menuju Terminal Larkin.
(Bersambung…)

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s