Kuala Lumpur dan Petronasnya

     Keringat mulai berkucuran saat saya berjalan kebingungan ga tau arah menyusuri trotoar. Ampun dah! Punggung saya serasa mau patah memanggul ransel. Yang bikin jengkel lagi, saat bertanya pada seseorang tadi, dia bilang dia ga tau Terminal Puduraya (Catat! dia bukannya ga tau terminal itu ADA DIMANA, tapi ga tau terminal itu ADA!). Saya pun terduduk lemas disamping jembatan layang sambil tetap pasang tampang cuek agar orang ga mikir saya sedang nyasar.
     Pada saat-saat kehilangan arah seperti ini, biasanya saya langsung membuka GPS di hape saya. Tapi kan, sudah 3 hari lalu saya copot kartu simnya karena lagi enak-enaknya liburan kok sms masih aja masuk. Mana bisa GPSnya nentuin koordinat kalo ga ada sinyal. Tapi ya, seenggaknya saya bisa liat peta.
Setelah beberapa detik meliat jalur-jalur melintang da
lam peta, tiba-tiba sebuah titik merah menyala-nyala disalah satu area. YIHAAAA!! Ternyata tanpa kartu sim pun GPSnya bisa nentuin koordinat saya. Allah memang sayang sama pelancong merana ini. Ternyata saya sedang ada di jalan ini toh? Kata saya pelan sambil memperbesar peta. Di samping titik merah itu, ada ikon H atau Hotel. Dan memang hotel itu ada diseberang jalan. Wah! Ternyata saya hanya berjarak 300 meter dari Bukit Bintang. Hahaha, dengan semangat yang kembali menyala-nyala, saya kembali melempar langkah.
     Saat berjalan sambil memperhatikan sekeliling, saya kok merasa kecewa ya. Terasa seperti “penurunan kualitas”. Tak tau apa saya yang salah rute perjalanan, atau kah karena ekspektasi saya yang terlalu besar, saya jadi sedikit kaget dengan kondisi Kuala Lumpur yang benar-benar jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kalau memang yang salah ekpetasi saya yang terlampau besar, bisa jadi. Tapi bisa juga karena rute saya yang salah, bermula dari Singapura yang sangat WAH! Dan tiba-tiba saya ada ditempat “seperti” ini. Saya bukannya menghina, hanya saja, seperti yang saya bilang diatas tadi, ada “penurunan kualitas”. Bisa jadi turis Malaysia pun akan berpikiran sama saat mengambil rute liburan dari Singapura, lalu berakhir di Jakarta; maka disaat itu juga dia akan berpikir “penurunan kualitas”. Saya ga begitu menyukai tempat ini.
Karena sudah ga sanggup lagi berjalan, akhirnya saya ambil kamar di salah satu hotel di jalan Bukit Bintang seharga RM 60 semalam (dit
ambah deposit RM 60, jadi total RM 120. Mahaaaalll!!. Uang sebesar itu untu kamar sekecil ini rasanya ga sepadan, namun karena ada kamar mandi pribadi serta air panas, juga ada TV, tak apalah. Parahnya, karena fobia ruangan sempit, saya jadi agak ketakutan dalam kamar ini, mana ga ada jendela lagi. Lengkaplah sudah ketakutan saya.
Setelah membersihkan diri, saya langsung jal
an-jalan dipusat perbelanjaan untuk nyari sendal. Ya, kecerobohan membuat saya lupa membawa sendal dari Indo, jadinya harus keluar duit ekstra untuk beli sendal. Hari makin gelap, perut saya kembali lapar. Saya pun ke jalan Alor, tepat dibelakang hotel yang saya inapi, yang merupakan pusat makanan.
     Nyari-nyari makanan halal, saya pun akhirnya bertemu dengan orang Indo asal Surabaya. Horee! Akhirnya, saya bisa makan makanan Indo. Ga pake pikir lama, saya langsung pesan cah kangkung dan ikan kembung, hahaha, tapi tetep, apapun makanannya, minumnya teh tarik segelas. (hal ini pun menjadi lelucon bagi Mela, dia sering bilang “jauh-jauh ke Malaysia, hanya untuk makan ikan kembung dan cah kangkung? Hahaha”. Saya bingung ngejelasinnya gimana, soalnya dia belum pernah ngerasain sendiri bagaimana nikmatnya menikmati makanan khas daerah sendiri setelah sekian lama makannya hanya nasi plus kare yang menyebalkan itu).
Rasa kecewa akan Kuala Lumpur benar-benar membuat saya ga betah ada ditempat ini. Saya pun nekad pergi ke menara kembar Petronas (ya, saya ke KL kan hanya untuk liat menara ini) jam setengah 11 malam. Wuuaahhhhh! Saya sampai menganga berdiri didepan gedung kembar raksasa ini, besar sekaleeeee…pencahayaannya juga man
tap sangat, membuatnya pantas menjadi kebanggaan negeri ini.
Disini saya bertemu dengan rombongan turis Indo juga, kesempatan dong untuk minta difoto. Hehehe, belum puas. Saya pun minta tolon
g sama cowok India yang sesekali menggeleng kepalanya saat saya ngomong. Ternyata dia memang dari Negara India, bukan India Tamil yang ada di Malaysia atau Singapura. Saat saya gantian memotret dia dan adiknya, adik perempuannya sampai berkata “I like these photos. They’re good. Are you a photographer?” katanya bersemangat. “No, I’m not” jawab saya sambil tertawa karena dikirain fotografer.
     Kata supir taksi yang tadi mengantar saya kesini “lebih baik jalan aja saat balik ke hotel. Deket kok”. Jiaahhhh, saya sampai nyasar beberapa kali saat nyari jalan pulang. Apalagi udah tengah malam, dan kacamata saya hilang di Singapura, jadinya saya agak kesulitan baca nama jalan diplang.
Saat akhirnya sampai di hotel, saya sempetin dulu ngakses inet, buka FB, terus kirim pesan ke Chen, nulis kalau besok saya akan ke Penang.

(Bersambung…)

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s