Kinclongnya Terminal Puduraya

     Hotel sialan ini memang nyari duitnya ga kira-kira! Bayarannya memang RM 60 semalam, tapi pemiliknya juga mencari pemasukan tambahan dengan cara-cara yang menyebalkan; kalau ada barang yang rusak selama masa sewa dikenakan denda sih oke aja, tapi ini lho ga masuk akal, masa handuk dan seprai tempat tidur kalau kotor bakalan didenda! Shit! Sampai-sampai saat hendak tidur semalam, saya sikat kaki dulu biar bersih, saya pun menggunakan peralatan mandi sendiri!
Karena ga betah berada di KL dan, terutama, di hotel ini, jam 9.30 pagi saya langsung meluncur ke Terminal Puduraya . Kata resepsionisnya sih deket, tapi ternyata definisi deketnya dia itu beda jauh dengan saya. Saya sampai nyasar dua kali nyari terminal ini. Saya tanya dimana ‘Puduraya Terminal”’pada beberapa orang, merega geleng-geleng. Mana saya tahu ternyata mereka menyebutnya ‘Puduraya Buspark’!
Seperti Terminal Bandar Seri Tasik, terminal satu ini juga dibuat kinclong mirip bandara . Menurut info sih nih terminal bangunannya baru, makanya mulus disana-sini. “Permisi, dimana ya loket karcisnya?” tanya saya pada petugas wanita yang berdiri disamping tangga, yang menyambut pertanyaan saya dengan wajah kebingungan. “Eh, maksud saya KAUNTER TIKET”, ralat saya. “Oo, ada di lantai 3” balasnya ramah. Saya pun langsung menaiki tangga menuju tempat penjualan tiket.
Canggihnya, jadwal keberangkatan serta nama armada dipampang secara jelas di layar LCD, *waduh, bener-bener kayak bandara . Saya liat, waktu keberangkatan tujuan Penang yang paling cepat adalah jam 11.30, armada Transnasional. Ya udah, saya langsung menuju loketnya, beli tiket (kalau ga salah saya bayar RM 35), lalu kembali dengan ngebut menuju hotel karena jam sudah menunjukkan pukul 10.
Saat check out, ternyata kamar saya diperiksa dulu, ada yang rusak ga, ada yang kotor ga, ada yang patah ga. Saya agak deg-degan, soalnya semalam saat selesai BAB dan hendak menekan tungkai bilas, airnya ga mau keluar. Pas saya periksa tangkinya, ternyata airnya ga penuh-penuh saat isi ulang otomatis. Waduh! Alamat kena denda nih! Tapi saya ga hilang akal, saya tarik selang dari keran, lalu isi penuh tangki dengan air. Hahaha, jadinya bisa deh bilasnya. Saya pun mengulang trik itu sebelum keluar dari kamar karena yakin asisten resepsionisnya itu bakalan periksa kamar ini per-inci-nya.
Sret-srat-sret, saya tanda tangan di slip bukti pembayaran, deposito RM 60 pun kembali ke kantong. Saya langsung bergegas keluar dan mencegat taksi. Jantung saya memukul-mukul dengan kencang, masalahnya 15 menit lagi bus saya berangkat.
Saat akhirnya tiba di terminal, saya langsung menuju ruang tunggu. Tak lama kemudian, kami semua menuruni tangga menuju bus yang sedang menunggu dibawah. Saya masukkan ransel dalam bagasi, lalu mencari tempat duduk. Bus pun berangkat. Saya agak heran, ga semua tempat duduk diisi, tapi kok busnya jalan aja ya? Eh, ternyata dia mampir lagi ke terminal berikutnya. Segera saja bus penuh total.
Keberuntungan emang ga bakal kemana, duduk disamping saya seorang cewek berjilbab berkulit putih mulus yang wajahnya mirip Siti Nurhalince.
(Bersambung…)

3 responses to “Kinclongnya Terminal Puduraya

  1. Bang ane mau mlaysia trus ke thailan maksud ane bukan thailan kota alias pinggiran stlah prbatasan mlaysia brarti kota apa itu

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s