Journey to Penang

 

     “Can you tell me what’s that supposed to mean?” tanya saya (mengumpan obrolan sebetulnya) pada cewek itu sembari menunjuk sebaris kalimat diatas kertas yang ditempel di bus sebelah. “Mmm, it means that we’ll arrive to the destination for sure, so no need to ask the driver” jelasnya ramah. “I see. So, the point is no asking to the driver” sahut saya senang karena dia memakan umpan saya. “it is” katanya lagi. “Well, mmm, I think it’s funny to speak English to you since we’re both Malay, but honestly I find it hard to understand Bahasa Malaysia since I’m not accustomed with neither the grammar nor the accent” cerocos saya, “I’m from Indo anyway” tambah saya lagi. “Yeah, I got it. Perhaps we better communicate in English”, balasnya penuh senyum. “I’m Fier by the way” kata saya ngenalin diri duluan. “I’m Awatif” balasnya. “Well nice to meet you Awatif” sahut saya. “Nice to meet you too” jawabnya. Journey to Penang? klik lah!

Kinclongnya Terminal Puduraya

     Hotel sialan ini memang nyari duitnya ga kira-kira! Bayarannya memang RM 60 semalam, tapi pemiliknya juga mencari pemasukan tambahan dengan cara-cara yang menyebalkan; kalau ada barang yang rusak selama masa sewa dikenakan denda sih oke aja, tapi ini lho ga masuk akal, masa handuk dan seprai tempat tidur kalau kotor bakalan didenda! Shit! Sampai-sampai saat hendak tidur semalam, saya sikat kaki dulu biar bersih, saya pun menggunakan peralatan mandi sendiri!
Karena ga betah berada di KL dan, terutama, di hotel ini, jam 9.30 pagi saya langsung meluncur ke Terminal Puduraya . Kata resepsionisnya sih deket, tapi ternyata definisi deketnya dia itu beda jauh dengan saya. Kayak apa sih Terminal Puduraya itu?

Kuala Lumpur dan Petronasnya

     Keringat mulai berkucuran saat saya berjalan kebingungan ga tau arah menyusuri trotoar. Ampun dah! Punggung saya serasa mau patah memanggul ransel. Yang bikin jengkel lagi, saat bertanya pada seseorang tadi, dia bilang dia ga tau Terminal Puduraya (Catat! dia bukannya ga tau terminal itu ADA DIMANA, tapi ga tau terminal itu ADA!). Saya pun terduduk lemas disamping jembatan layang sambil tetap pasang tampang cuek agar orang ga mikir saya sedang nyasar.
     Pada saat-saat kehilangan arah seperti ini, biasanya saya langsung membuka GPS di hape saya. Tapi kan, sudah 3 hari lalu saya copot kartu simnya karena lagi enak-enaknya liburan kok sms masih aja masuk. Mana bisa GPSnya nentuin koordinat kalo ga ada sinyal. Tapi ya, seenggaknya saya bisa liat peta. Yuk jalan-jalan ke Menara Petronas!

Johor Bahru to Kuala Lumpur

     Suasana di Terminal Larkin mirip dengan Terminal Kampung Rambutan , banyak orang lalu lalang, calo nawarin sana-sini, juga orang dagang . Saya pun ga kalah sibuk nyari bus yang oke dan nyaman. Maklum, perjalanan dari JB ke KL kan makan waktu 4 jam, jadi keluar duit lebih sedikit untuk dapat kenyamanan sah-sah aja.
     Saya pun memilih bus warna merah kinclong dengan bangku 2:1, ruang dalam bus juga cukup luas . Kalau ga salah, saya bayarnya RM 35. Para petugas busnya pada galak-galak; saya dengar salah satu dari mereka teriak-teriak dideretan bangku belakang. “Kamu keluar, ini bas sayaa!!!” teriaknya pada salah satu penumpang . Saya ga ngerti apa permasalahannya, dan ga mau tau. Yang penting saya sudah duduk nyaman. Yuk cari tau cara pergi dari JB to KL

Teman Perjalanan yang Singkat

     Well, karena saya pergi melancong sendiri, apalagi ditambah kekurangtahuannya saya tentang proses imigrasi yang nyatanya baru sekali saya lalui saat di Indo , saya jadi deg-degan saat bus yang saya tumpangi membawa saya ke kantor imigrasi Singapura . Waduh,.mata saya pun melarak-lirik orang-orang yang berdiri dibelakang saya, mencari yang bisa diajak bicara. Dan, pandangan saya pun tertumpu pada seorang cewek  yang, menurut saya, dapat dipercaya. Siapa sih teman perjalanan yang singkat itu?