Semalam Menjadi ‘Singaporean’

     “You stay in my house tonight, and we both go to Woodlands tomorrow morning, okay” kata Nurfirman pada saya. Waduh, ada perubahan rencana nih . Tapi setelah saya pikir-pikir, kalo saya nekad pergi malam ini, sampai di Kuala Lumpur besok pagi. Sedangkan bila saya perginya besok pagi, tibanya sore hari. Intinya, ya sampenya hari itu juga.  Lagipula, saya ga perlu bayar kan nginap di rumah Nurfirman. Dan satu hal lagi, kapan lagi coba bisa meliat langsung kehidupan rakyat Singapura. “Okay” sahut saya.

Kami pun naik taksi menuju Jurong West, tempat dimana sebagian masyarakat Singapura tinggal. Selama perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Nurfirman bercerita banyak mengenai negara ini, mulai dari bahasa yang digunakan, tempat tinggal, plang-plang penunjuk jalan, denda, serta hal-hal lainnya. Disini mobilnya pada kebut-kebutan . Sopir taksi kami yang udah tua juga jago banget main gas. Saat belokan saja saya hampir jatuh dari bangku.

Setelah memasuki kawasan gedung bertingkat, kami pun berhenti disalah satunya. Mmm, jadi ini ya tempat tinggal orang Singapura . Disatu area ini saja, banyak sekali flat yang berdiri gagah. Kami pun berjalan menuju bangku untuk duduk-duduk sebentar. Disitu, kami bercerita lagi panjang lebar. Lalu naik lift menuju lantai atas.

Walaupun berada dilantai 2, namun tempat ini diatur sedemikian rupa hingga terlihat seperti berada langsung “diatas tanah”. Jadi kalau berdiri membelakangi tembok pembatas tepi bangunan, kita serasa ada “diatas tanah” . Saat memasuki rumah, ternyata Ibunya sedang nonton TV. Waduh! Mati gaya saya . Saya ga tau adat masyarakat Melayu Singapura dalam menyalami orang tua itu gimana. Saya pun dengan kagok menyalami tangan ibunya, lalu menempelkannya di dahi saya, seperti kebiasaan menyalami di Indo.

Saat memasuki kamarnya, saya langsung duduk ditempat tidurnya karena badan saya serasa remuk . Saya pun sempatkan mandi air hangat dulu, mumpung, air hangat kan bisa kurangi rasa pegal . Setelah mandi, saya pun bergabung dengan Nurfirman yang sedang main laptop. TV yang sedang nyala menampilkan sinetron ala Singapura. Ceritanya mengenai Si Capik (ucap: Si Cape’), atau yang di Indo kita bilang berkaki ‘X’, pemerannya pria bertampang keren serta berpakaian ala esmud dan bekerja di perusahaan . Ceritanya sih bisa ditebak, mengenai kisah asmara Si Capik dengan sang pujaan hati.  Hahaha, saya paling malas yang namanya nonton sinetron di Indo. Eh, ternyata si Nurfirman juga ga suka. Jadi lah kami ganti kanal ke siaran luar negeri.

Satu hal yang mencengangkan adalah, budaya Singapura ternyata sangat mengadopsi budaya barat . Waktu saya bilang saya kehausan, Nurfirman langsung meluncur ke dapur untuk ambilin minum. Dan yang datang adalah segelas Coca Cola dingin . “It’s nice but, fresh water might be enough” kata saya menolak secara halus (Huh, udah numpang, nuntut lagi! ). “Oo, you don’t drink this?” tanyanya heran. “I do, but not often. I mean, in Indo, we tend to drink fresh water than Coke” jelas saya. “Mmm, I see. In Singapore, we usually drink coke than fresh water” sahutnya. Bukannya bermaksud ga sopan karena menolak, tapi saya punya pengalaman buruk minum minuman soda seharian . Waktu itu saya kurang minum air putih, dan hanya minum soda, jadinya tengah malam saya bangun sambil mengernyit kesakitan menahan ginjal saya yang berasa diremas-remas. Ternyata darah saya mengental dan ginjal harus bekerja esktra keras untuk menyaring darah saya yang pekat.

(Bersambung…)

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s