Merlion, Aku Datang!

     2 jam saya putar-putar sampai punggung saya serasa mau patah. Daftar penginapan murah yang ada dibuku yang saya beli ditoko buku ternyata sudah kadaluarsa. Beberapa penginapan itu sudah tutup. Dan harapan saya satu-satunya adalah Inncrowd hostel*. Saya yang sudah nyasar sampai Mustafa Center, akhirnya harus berjalan ratusan meter lagi ke kearah Inncrowd. Dan tau kah anda, pemirsa? Saat akhirnya saya menemukan hostel kecil tersebut, ternyata sudah penuh! Shit! Sang penjaga pun menyarankan saya pergi ke jalan Dunlop, dan setelah mengikuti nasehatnya, saya menemukan hostel Prince of Walse Singapore*. Alhamdulillah! Ada tempat tidur kosong. Karena dormitori, satu ranjang seharga $ 22. Saya pun ambil dua malam.
     Sang penjaga kemudian mengantar saya ke kamar. Dan disana saya berkenalan dengan Tom, seorang petualang dari Inggris yang sudah berbulan-bulan ga pulang-pulang, serta sedang mencari kerja di Singapura. Kami pun langsung akrab (terima kasih Tuhan, bahasa Inggris sungguh membantuku). Jam sudah menunjukkan pukul stengah 5, dan agenda saya hari ini adalah ke Marina. Yap, walaupun kaki saya sudah pegal, tapi saya tetap harus ikuti agenda. Segera saja saya merapikan tempat tidur, lalu berjalan menuju stasiun Little India.
     Setelah kereta berhenti di stasiun Raffles Place, dan berjalan keluar bangunan stasiun, saya terkejut meliat pemandangan diluar. WOW! Hanya itu yang bisa saya katakan saking takjubnya mendapati diri saya berdiri disebuah taman yang dikelilingi gedung pencakar langit. Luar biasa! Saya pun kebagian koran gratis yang ditulis dalam bahasa Inggris, huh, jadi malas bacanya. Saya pun membuangnya di tempat sampah khusus kertas yang diatasnya dipasang kamera pengintai.
    Karena saya parno duluan perihal DENDA, saya jadi urung mengeluarkan kamera untuk foto-foto. Siapa tau lagi asyik-asyik foto, langsung disamperin polisi “Eh kamu yang foto-foto, denda $ 1000!” mana ada duit saya segitu. Ditaman ini banyak sekali yang merokok, mungkin area bebas kali ya. Yang merokok rata-rata para esmud. Kali aja bakalan didenda kalo merokok dalam ruang kerja.
     Saya pun berjalan menuju sungai Singapura yang beken itu. Saat mau menyeberang, saya liat tidak ada zebra cross. Waduh, jangan-jangan kalo saya nyebrang sembarangan, langsung disamperin polisi “Eh kamu yang nyebrang sembarangan, denda $ 2000!”. Namun, saya liat banyak kok yang nyebrang. Jadinya saya ikut-ikutan, dan aman! Hehe. Di pesisir sungai, ada yang jualan es krim seharga $ 1. Eh, ada esmud juga yang mau beli. “Is it allowed to take picture in that area?” tanya saya sembari menunjuk taman tadi pada si esmud. “It is.” Jawabnya sambil tersenyum. “Well, good. I asked you because I was thinking it wasn’t allowed” kata saya. “Haha, don’t worry. Just do what locals do” sahutnya. Dan kami pun berjalan sambil ngobrol ke arah taman lagi. Saya pun meminta tolong padanya untuk mengambil gambar saya. Haha.
     Saat berjalan menuju teater Esplanade, saya terkesima dengan tatanan kota negara ini. Semuanya diatur dengan terencananya hingga susunan bangunan di Raffles Place tadi begitu menakjubkan bila dilihat dari arah teater Esplanade. Kalau diperhatikan, bangunan teater itu mirip buah durian. Hahaha, mungkin arsiteknya terinspirasi dari buah itu. dan dikejauhan sana ada Marina Bay Sands yang diatasnya berdiri 3 bangunan hotel dengan kapal yang nyangkut diatasnya. Bangunan ini mungkin terinspirasi dari kapal yang nyangkut di salah satu rumah penduduk di Aceh saat tsunami menerjang…hahaha (lagi). Dan bangunan museum disampingnya mirip cangkang telur yang udah pecah. Salut buat Singapura!
Mata saya pun cari-cari patung Merlion yang beken itu, wah ternyata harus menyeberang lagi. Saat berjalan, saya ketemu dengan dua orang Indo. Wah, senangnya. Langsung akrab lah kami. Kami pun berjalan bersama ke arah Merlion. Pertama-tama kami foto-foto di patung anaknya Merlion, banyak loh yang rebutan foto dengannya. Lalu dilanjutkan dengan berfoto bersama mama Merlion.
     Wah, saya benar-benar ga menyangka. Yang dulunya saya hanya berangan-angan berfoto didepan patung ini, dan sekarang saya memang sedang berfoto dengannya. Impian menjadi kenyataan, air mata pun berlinang *halah! Lebay tingkat tinggi!
     Ternyata dua orang Indo kocak asal Medan itu harus kembali ke kapal tempat mereka bekerja. Kalo saya sih memang berencana sampai malam disini. Soalnya saya penasaran motret si Merlion yang dilatarbelakangi gedung pencakar langit yang menebarkan cahaya lampu nan meriah. Pasti keren deh.(Bersambung…)

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s