7 Jam Menunggu? -_-“

     Buku novel yang saya bawa untuk nemenin perjalanan sedang saya baca di, ehem…ehem, depan toilet Bugis Junction . Yap, saya masih punya 7 jam untuk menunggu! Dan saya sekarang sedang menyasarkan diri, duduk dibangku depan toilet umum mal, memonopoli tempat dengan menaruh tas saya agar ga ada yang duduk, membaca tapi tak bisa fokus, sambil menghitung detik jam yang berputar . Huh, saya sebenarnya ga ada rencana, terbersit pun ga, untuk berakhir di Bugis Junction, tapi mau dimana lagi saya bisa duduk-duduk sambil menahan lapar.
Bosan baca buku, saya pun berjalan keluar mal. Jiaahhhhhh!! Penderitaan emang ga bakal kemana; ternyata diluar lagi hujan deras . Saya pun seperti turis kehilangan induknya, berdiri sambil menatap orang-orang yang berlarian di jalan sambil menutupi kepala mereka dengan jaket. Pas saya liat diseberang jalan, oh itu toh Bugis Street yang beken itu . Sempat ada keinginan untuk jalan-jalan disitu, tapi pundak saya udah perih banget menahan bobot ransel saya. Hadeh! Rasanya pengen buang sebagian baju saya saja di tong sampah!
Lagi-lagi bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja, saya pun naik MRT lagi dengan tujuan Raffles Place. Saat sampai disana, ternyata hujan udah redahan . Saya pun berjalan menuju tukang es krim yang nongkrong di samping sungai Singapura, beli satu, lalu berjalan menuju teater Esplanade. Di taman setelah melewati lorong, saya duduk santai di bangku yang menghadap langsung ke arah Raffles Place, Marina Bay Sands, dan Esplanade sambil makan es krim. Duh, padahal saya ngantuk banget, tapi udah ga ada tempat untuk tidur. Kepala saya pun udah mulai pusing karena ga bisa tidur.
Lagi asik-asik ngelamun, ada turis nongol dan berhenti 5 meter dari saya. Saya liat sih kayaknya dari Jepang dia (sok tahu!) . Dia berdiri membelakangi Esplanade, mengeluarkan kamdinya, lalu memotret dirinya sendiri . Waduh! Tersentuh hati saya (hoeekk). Sebagai sesama turis kesepian, dan memiliki perikemelancongan yang tinggi, saya pun berkata “I can take your picture if you want”. “Sure” sahutnya gembira, kemudian berpose membelakangi Esplanade dan Hotel Marina.
Waktu udah nunjukkin pukul 4 saat saya naik MRT lagi menuju stasiun Farrer Park. Saya pun masuk ke Masjid Anguilia, shalat, lalu tidur-tidur ayam sampai pukul setengah 6 . Kemudian, saat pukul 6, saya tiba di stasiun China Town (Wow, pengembara MRT nih saya). Selagi duduk-duduk di tangga depan gerbang stasiun, saya dihibur oleh kakek-kakek yang sedang unjuk bakat nyanyi didepan umum. Walaupun tak ada satu kata pun yang saya ngerti, tapi setidaknya ada yang bisa dinikmati.
Tak terasa 15 menit lagi udah mau jam 7. Saya pun menuju salah satu telepon umum, kemudian menelpon Nurfirman, memberitahunya kalau saya sudah menunggu di depan People’s Park. Saya pun memberitahu ciri-ciri saya agar dia dapat mengenali saya, hehe.
“You must be Fier” kata seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan saya. Wow, akhirnya kami bertemu juga setelah 7 jam membunuh waktu. Faktanya adalah dia adalah teman blog pertama yang saya temui . Dia pun mengajak saya ke pusat belanja dan makan. Kami berhenti di salah satu kedai, memesan minum, lalu ngobrol. Saya liat dimeja samping kami ada bungkusan rokok yang gambar sampulnya kaki dengan borok disana-sini . Busset! Serius bener pemerintah Singapura menganjurkan rakyatnya untuk ga merokok. Bandingin dengan di Indo yang hanya berupa tulisan, itu pun imut banget hurufnya dan letaknya disudut.
Karena disekitar situ ga ada kedai makanan halal, kami pun pindah lagi. Sambil mencari, saya harus menyamakan langkah saya sama Nurfirman. Dia jalannya cepat sekaleee (satu hal yang buat saya cinta dengan Singapura).  Saya juga seorang pejalan yang cepat, namun dengan beban dipundak, jadinya saya kepayahan nyamain langkah.  Setelah cukup lama mencari, akhirnya kami berakhir di kedai makan INDIA! OH TIDAK! JANGAN KARE LAGI!!  Tapi mau gimana lagi, wong kedai halal disitu cuma resto itu doang. Kami pun pesan mie goreng, dan, eng ing eng, yang muncul didepan saya adalah mie goreng berwarna merah menyala . Ya Tuhan! Saya sampai menelan ludah, ga berani membayangkan rasa pedasnya. Mana diatasnya dikasih penghias saus cabe lagi . Ampun bo! Ternyata saat saya makan, mienya ga pedes sama sekali. Saya campur sausnya, eh, rasanya kayak saus tomat . Hahaha…untung saya bawa saus cabe sendiri dari Indo. Setelah dicampur, langsung berasa hot! hot! (pinjam irama lagu So Hot-nya Wonder Girls)
(Bersambung…)

Yang dah nyasar kesini, jangan lupa tinggalkan jejak ;-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s